RSS

DILEMA KEHIDUPAN NELAYAN

05 Des

Minggu lalu kami menuju kampong nelayan di daerah Pelabuhan Ratu Desa Cikahuripan dalam rangka studi lapangan mahasiswa, setelah kami melakukan wawancara yang berhubungan dengan tugas kuliah kami, kami sangat terkesima dengan pola kehidupan mereka. Setiap sore hari mereka pergi melaut dengan harapan memperoleh hasil tangkapan yang berlimpah guna menyambung hidup untuk memenuhi kebuthan sehari-hari. Namun apalah daya, karena akhir-akhir ini ikan sangat jarang ditemukan kecuali mereka melaut sampai ke tengah laut. Para nelayan mengeluh kepada
kami (mahasiswa) apalagi sejak BBM & minyak tanah mengalami kenaikan harga, kehidupan mereka mengalami perubahan yang sangat drastis terutama sejak krisis (1998), mereka menceritakan bahwa untuk melaut saat ini per harinya membutuhkan biaya operasional sekitar Rp. 750.000,- untuk biaya bahan bakar motor kapal, minyak untuk lampu petromak, bekal nelayan selama di laut dan perlengkapan lainnya. tak jarang pagi harinya mereka pulang dengan hasil tangkapan yang sangat sedikit, bahkan sering pula mereka pulang dengan tangan kosong.

Kosongnya hasil tangkapan ikan nelayan sebagai akibat dari banyaknya sejumlah kapal besar yang berasal dari luar negeri dengan peralatan yang serba modernnya mencuri ikan di perairan pada wilayah mereka, tidak tanggung-tanggung jumlahnya sekali tangkap mereka bisa mendapatkan ratusan ton ikan. Sedangkan nelayan dengan peralatan sederhananya hanya bisa mendapatkan puluahn ekor itupun yang didapat adalah ikan-ikan kecil.

Pada saat musim paceklik (ikan di laut lagi kosong/hasil tangkapan tidak ada karena gelombang tinggi) sering kali para nelayan meminta pertolongan kepada pedagang Pengumpul dengan cara meminjam sejumlah uang dengan perjanjian apabila melaut lagi hasil tangkapan dipotong dari hasil pinjaman atau menjual hasil tangkapan kepada pedagang pengumpul yang meminjamkan uang, peranan pedagang pengumpul ditengah para nelayan sangat menolong terkadang saat salah satu keluarga nelayan sakit parah, atau melahirkan, pedagang pengumpulah yang memfasilitasi dengan membiayai seluruh pengobatan sampai sembuh, sehingga terjalinlah hubungan timbal balik antara nelayan dan pedagang pengumpul. Para istri nelayanpun tidak sedikit yang ikut berperan dalam pola nafkah kehidupan nelayan, mereka pergi ke luar negeri menjadi buruh/pembantu di luar negeri yang sering kita kenal dengan TKI, dengan system kontrak. Kami menayakan, “mengapa bapak tidak meminjam modal di Bank?” mereka menjawab apabila meminjam sejumlah dana di Bank merka harus melewati berbagai birokrasi yang rumit bahkan harus menyediakan jaminan, itupun uang tidak bisa langsung dicairkan, berbeda dengan tengkulak atau pedagang pengumpul yang dapat menyediakan sejumlah dana pinjamankepada mereka pada saat mereka perlukan.

Ditengah percakapan para nelayan sangat berharap kepada kami sebagai civitas akademik, agar suara mereka sebagai rakyat kecil diperhatikan, sebab sudah banyak LSM dan Partai atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memberikan jani-janji kepada merka namun sampai saat ini kehidupan mereka makin terpuruk. LSM dengan programprogramnya hanya menjual nama mereka (Nelayan) untuk kepentingan meng goal kan sejumlah dana yang kemudian setelah mengambil data yang diperlukan LSM tersebut tidak nampak lagi. Berbagai partaipun turut meminta dukungan para nelayan apabila kampanye berlangsung dengan program-program yang menggiurkan namun tidak ada satu partaipun yang merealisasikan program yang dijanjikan kepada nelayan.

Mereka para nelayan justru sangat percaya kepada kami (mahasiswa) yang dapat menyalurkan suara mereka, karena mereka sudah muak dan bosan dengan banyaknya partai atau LSM yang bermunculan namun semuanya bohong belaka. Mereka menganggap kami (mahasiswa) yang melalui jalur pendidikanlah suara mereka dapat didengar.

Selama 3 hari dua malam kami membaur dalam kehidupan nelayan di desa Cikahuripan Kabupaten Sukabumi, kami tidur dirumah nelayan tersebut, kami membantu mendorong perahu yang akan melaut, kami makan dari piring yang digunakan para nelayan. Kami benar-benar merasakan bagaimana suka dukanya menjadi nelayan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 5, 2008 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: